HARU
-2-
‘Bukan urusanmu.’
Hanya
itu balasan dari Haru. Kedengarannya tidak sopan jika diucapkan. Yukkari
mengamati balasan tersebut dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan dibalik sms
yang dikirim Haru. Sedetik kemudian muncul sms lagi dari Haru yang berbunyi:
‘Yukkari, aku ingin bertemu denganmu
besok. Jam 7 di Café XXX.’
Yukkari
terkejut dan sekaligus merasa gelisah. Ia takut memikirkan apa yang akan
terjadi besok. ‘Bagaimana jika hal itu benar?’ ‘Apakah Haru marah karena aku
terkesan sangat ingin tahu?’ ‘Apa yang harus kulakukan saat berhadapan
dengannya?’ Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Yukkari.
‘Hufft.’
Yukkari menarik nafas panjang lalu masuk ke dalam Café XXX yang sangat terkenal,
sesuai dengan yang tertera dalam sms Haru. Saat itu sudah ada banyak orang yang
duduk di dalam café. Ia memalingkan kepalanya, mencari-cari sosok Haru. ‘Itu
dia’ pikir Yukkari dan berjalan menuju ke pojokan café tempat Haru sedang duduk
sambil bermain dengan handphone-nya.
Haru menoleh, dan mengisyaratkannya untuk duduk. Tatapannya aneh, Yukkari tak
bisa menebaknya. Hatinya berdebar melihat Haru dari jarak yang cukup dekat
untuk pertama kalinya.
“Kau
Yukkari?” Tanya Haru. Yukkari mengangguk.
“Darimana
kau tahu tentang hal itu?” Lanjutnya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Yukkari
mengernyit melihat sikap Haru yang tidak mempersilakannya duduk terlebih
dahulu. Ia mendesah, lalu duduk dikursi yang tersisa.
“Tidak
penting aku tahu darimana atau dari siapa. Apakah hal itu benar?”
“Sudah
kubilang kan, bukan urusanmu. Benar atau tidak, kau tak punya hak untuk
mencampuri hidupku.”
“Aku
tak percaya kau orang seperti itu, Haru.” Yukkari merasa sedih atas jawaban
Haru yang secara tak langsung seolah membenarkan pernyataannya.
“Maka,
percayalah. Dan jangan pernah menghubungiku lagi.”
“Berhentilah
memakai obat-obat itu Haru, kau tahu sendiri akibatnya. Aku tidak akan
melaporkanmu ke polisi. Tapi tolong berhentilah.” Yukkari bersikeras.
“Ancamanmu
tak akan mempan padaku. Dan kuberitahu kau, ini hidupku. Bukan hidupmu!” Haru
merasa gusar.
“Baik,
aku akan berhenti merecoki dirimu lagi jika kau mengabulkan permintaanku.”
“Terserah.
Apa saja, asalkan setelahnya kau berjanji tidak akan mengungkit masalah ini.”
Haru tidak sabar.
“Berikan
waktumu kepadaku selama satu bulan. Dalam satu bulan kau akan pergi kemanapun
denganku,
begitupun aku akan ikut kemana pun kau pergi. Setelah pekerjaanmu usai
tentunya. Jika dalam sebulan aku tetap tidak berhasil membuatmu berhenti
memakai obat-obat itu, aku tidak akan mengganggumu lagi.” kata Yukkari mantap.
“Satu
bulan? Apa kau sudah gila? Tidak, tidak selama itu. Kuberi kau waktu satu
minggu.” Haru terdengar menggerutu.
“Kalau
begitu tiga minggu”. Pinta Yukkari.
“Nope. Aku tidak mau menghabiskan waktu
berlama-lama denganmu.”
“Baiklah,
dua minggu. Tidak ada tawar menawar lagi.” Yukkari ikut menggerutu.
“Baik,
baik. Selama kau tidak menyuruhku ke pusat rehabilitasi dan yang berhubungan
dengan hal itu. Aku bahkan pesimis kau akan bisa meyakinkanku.” Haru merasa
sedikit bimbang akan keputusannya. Tetapi yang terpenting adalah Yukkari tak
akan merecokinya lagi setelah itu. ‘Perempuan yang aneh’ pikir Haru.
Esoknya
Haru menepati janjinya. Sore sepulang kerja ia menjemput Yukkari yang minta
diantar ke pantai. Benar-benar permintaan yang konyol, namun toh tetap ia
turuti. Sesampai di pantai, Yukkari menariknya mendekati ombak. Haru bisa
merasakan hembusan angin pantai yang menerpa wajahnya. Ia menutup mata dan
menghirup udara dalam – dalam. ‘Segar sekali’ pikirnya. Haru lalu mulai duduk
dan mengambil sebatang rokok dari sakunya. Sebuah tangan lain mengambil rokok
itu dengan cepat.
“Sia –
sia saja aku mengajakmu menghirup udara segar seperti ini jika kau mulai
merokok.” Kata Yukkari sambil memasukkan rokok tersebut ke kantung plastik dan
menyelipkannya ke dalam saku.
“Hei,
kau tak berhak melarangku.” Haru menggerutu dan mengeluarkan sebatang rokok
lagi. Namun Yukkari mengambilnya lagi dengan cepat. Begitu terus hingga tidak
ada rokok tersisa yang dibawa Haru. Ia akhirnya menyerah dan kembali ke dalam
mobil. Mereka lalu meluncur pergi untuk makan malam.
Setelah
dua hari bersama Yukkari, Haru mulai bosan karena ia tidak bisa bebas merokok
dan ia belum sempat nyimeng lagi.
Hari ini adalah Jumat, hari terakhir kerja dan besok sudah weekend. Biasanya setiap Jumat malam ia akan hang out ke bar atau diskotik bersama beberapa temannya. Haru tak
mau melewatkan kesempatan itu. ‘Biarkan saja Yukkari, toh ia tak tahu kemana
aku pergi’ gumam Haru. Malam itu, Haru pergi ke bar tempatnya biasa nongkrong
dan minum berbotol – botol alkohol hingga mabuk. Ia juga menghirup ganja yang
ditawarkan salah seorang temannya.
****

Komentar
Posting Komentar