Hanya Berjalan

Dia berjalan sendirian,
Di tengah jutaan bulir-bulir hujan
Dibawah amarah langit yang menggelegar,
Diantara cipratan-cipratan cokelat yang dilemparkan ibu pertiwi kepadanya.
                                 Dia berjalan terus,
                                 Melewati kebisuan bangunan yang berdiri tegak
                                 Mengindahkan pepohonan yang terkulai lemah
                                 dengan cabang dan ranting yang patah dimana-mana
Dia berjalan maju,
Menghampiri kedukaan yang menyapanya
Menerobos kenistaan yang selalu menepuk pundaknya
Dengan tangan-tangan penuh dosa dan kebencian




-arii arnottz-
#15102017

Komentar

Postingan Populer