A C H I? - 10 -
Apa Cerita Hari Ini ?
7 Desember 2022
Wah,
sudah berapa lama ya aku nggak nulis lagi? Susah sekali membangun mood untuk
menulis. Ini tetap jadi tantangan terberatku. Padahal, ada banyak sekali
hal-hal yang bisa diceritakan. Entah kenapa semua itu selalu hanya berputar
sampai di kepala saja ahahaha…
Terakhir aku
cerita tentang eksim dishidrosis yang kualami. Sudah sembuh? Well nggak seratus
persen karena eczema ini kita dapat mainly from our genes. Jadi yah, on and off
gitu. But I did well, really. Sekarang pun masih suka comeback, ini aja kedua
tanganku kambuh lagi. Bawaan hormon juga sih kalo perempuan, apalagi biasanya
PMS hormon suka naik turun nggak jelas.
Tapi bukan
ini yang mau aku ceritakan. Bisa kapan-kapan lah ya, hehe… Hari ini sepertinya
menjadi salah satu dari sekian hari sial yang pernah kudapatkan. Bangun pagi
perasaan udah nggak enak, badan juga nggak fit. Dari mandi, makan, nelfon
nyokap sampai prepare buat berangkat kerja rasanya kayak pengen ngulur waktu
aja. Tiba-tiba mager, buat jalan kerja aja males. Sempat cerita sama kakak,
tapi ya mau nggak mau harus jalan kan. Naik motor kecepatan udah sedang aja
rasanya, jalan juga lagi ramai. Entah akunya lagi menghayal apa, kaget
tiba-tiba di depan pasar Dalung udah nabrak anak kucing aja. Entah lari
darimana tahu-tahu udah depan motor dan nggak sempat ngerem. Saking kagetnya
masih jalanin motor pelan-pelan dan berhenti beberapa ratus meter di depan sambal
minggirin motor. Aku noleh ke belakang dan liat si anak kucing masih kayak
lari-lari dijalan sampai akhirnya bisa ke trotoar dan diam di belakang motor
yang sepertinya punya tukang parkir.
Perasaanku
nggak enak dong karena sangat jelas dia kena tabrak aku, walopun sepertinya
kena tabrak beberapa motor lain juga. Soalnya jalannya rame banget dan motor pada
setengah ngebut semua. Akhirnya aku muter balik buat mastiin keadaan si anak
kucing. Pas aku deketin terlihat nafasnya udah pendek-pendek, dan akhirnya si
kucing nggak bernafas lagi. Aku kaget, tangan gemetar, ngerasa bersalah karena
udah nabrak si anak kucing sampai mati. T____T
Sedih banget,
kepikiran mau dibawa ke dokter hewan pun percuma karena udah nggak bernafas. Aku
langsung telfon kakak ku yang kebetulan libur, buat jemput dan bantu aku bawa
anak kucing itu. Aku juga ngabarin temen kerja buat info kalo aku izin nggak
masuk dan jelasin kejadiannya. Kakak ku datang dan bantu bungkus anak kucing
yang mati pakai baju putih (karena tanganku masih gemetar) terus kami bawa
pulang. Kami juga singgah buat beli canang dan segehan serta bunga untuk
mendoakan si anak kucing.
Susahnya adalah
rumah kontrakan yang kami huni nggak ada halamannya jadi nggak ada tempat untuk
mengubur mayat si anak kucing. Susah sekali mencari tanah kosong yang bisa
digali di daerah perumahan. Setelah menimbang-nimbang, aku dan kakak akhirnya
motoran ke jalan belakang mencari tanah kosong atau kebun yang agak sepi. Bukan
maksud apa, salah-salah kalo ada yang lihat curiga dikira kami mau ngubur mayat
bayi alih-alih anak kucing. Jaman sekarang kan imajinasi warga pada suka
aneh-aneh dengan berbagai macam berita penemuan mayat berseliweran di media sosial.
Akhirnya ketemu
juga salah satu kebun yang agak sepi. Sepertinya pemiliknya nggak tinggal dekat
situ jadi nggak tahu cara minta izin untuk nguburnya. Aku berjongkok menggali
tanah untuk meletakkan mayatnya, lalu bersama kakak ku menaruh segehan dan
bunga kemudian menguburnya. Di atas kuburan itu kami taruh canang, jajan, bunga
dan dupa untuk mendoakan agar si anak kucing bisa tenang dan damai di alam
sana. Orang Bali percaya dengan melakukan penguburan yang layak dan
mempersembahkan canang dan sarana lainnya untuk mendoakan hewan apapun itu yang
mati, maka kelak berharap mereka mendapat kehidupan yang lebih baik. Setelah selesai
menguburkannya, kami pun pulang.

Komentar
Posting Komentar