A C H I - EDISI SPESIAL (Tentang Eksim Dishidrosis)

8 Januari 2021

Aku luka bakar akibat ketumpahan air panas sepanci. Sempat cerita sedikit di episode ACHI sebelumnya. Perlu waktu hampir dua bulan untuk sembuh dan bisa jalan. Itupun belum total dan jalan masih pincang. Selama proses penyembuhan luka bakar, ternyata ada infeksi parah sampai bolak-balik ke dokter kulit dan ganti cara perawatan lukanya. Saat itu rasanya sedih banget karena nggak bisa kerja, nggak ikut perayaan hari raya Hindu dan lain-lain, juga malah memberatkan orang tua. Padahal kan harusnya kita yang merawat orang tua, ya.

3 Maret 2020

Balik kerja hari pertama karena kondisi kaki yang sudah lumayan kuat untuk jalan. Kulit sudah tumbuh bagus tapi masih sakit dan masih pincang jalannya. Bersyukur setelah dua bulan rebahan ternyata masih ingat cara naik motor, hehehe... Pas itu sudah ada isu-isu corona outbreak (Covid-19) di luar negeri dan udah masuk ke Indonesia, cuma belum heboh di Bali. Selama tiga minggu sempat kerja normal sampai Pengerupakan - sehari sebelum hari raya Nyepi. Selama itu pula menyebar berita tentang turis-turis di Bali yang pertama kali kena covid-19 dan akhirnya heboh. Pas Nyepi dapat kabar kalau semua tempat ditutup sampai sehari setelah Nyepi. Dalam kurun waktu dua hari itu kabar tentang covid makin merebak dan kondisinya gawat karena banyak berita dan video yang simpang siur tentang wabah tersebut. Bos tempatku kerja akhirnya memutuskan untuk tutup dan meliburkan kami para staff-nya sampai waktu yang tidak ditentukan. Inilah serangan covid pertama di Indonesia dan Bali khususnya yang beritanya gila-gilaan dan bikin ngeri.

Dari sejak itu aku libur dirumah terus, nggak balik ke kost. Disitulah tiba-tiba kaki yang luka bakar muncul bintik-bintik air banyak (di bagian pinggiran kaki agak menjorok ke telapak) dan terasa gatal yang luar biasa. Saking nggak tahan gatalnya jadi garuk-garuk terus dan malah pecah-pecah melebar jadi bengkak dan infeksi. Bintik-bintik airnya disini bukan kayak kutu air, tapi banyak banget dan dempet-dempet sampai akhirnya menyatu dan jadi bengkak besar lalu pecah. Aku tahan kira-kira semingguan cuma aku tutup perban aja, ternyata jadi luka dan tambah parah. Akhirnya mutusin pergi ke dokter kulit yang sebelumnya menangani infeksi saat proses penyembuhan luka bakar di awal. Pas itu dokternya bilang kulitku termasuk yang super sensitif dan jadi kayak gitu karena efek samping luka bakarnya. Waktu itu aku belum ngerti maksud dokternya itu sebenernya apa.

Akhirnya dikasi obat dan salep (diolesin kalo kulit yang gatal dan pecah itu udah kering). Dari situlah aku tahu dunia perobat-obatan untuk alergi. Karena kepo sama obat yang dikasi, jadi aku cari-cari info. Tahulah kalo obat-obat alergi yang aku minum selain antibiotik itu ada banyak jenis seperti cetirizine ( paling umum), inclarin, loratadine sampai yang paling berbahaya itu prednison, which is sterroid

Well, obatnya manjur. Nggak sampai 10 hari kulit yang infeksi udah kering dan mulai regenerasi kulit baru. Tapi karena kulit kaki tebal, jadi kulit baru sama kulit lama nggak bisa langsung menyatu. Sekitar minggu ketiga di bulan April di kontak sama Bos untuk balik kerja lagi. Kaki masih agak pincang karena sakit dan kulit bekas gatalnya masih tipis. Sempat muncul gatal-gatal akhir April itu dan mutusin beli obat sendiri dengan resep dokter sebelumnya.

Awal Mei juga masih agak gatal dan kulit yang udah kering belum mengelupas. Merasa salep dari dokternya nggak ada perubahan, disarankan cari dokter kulit lain di Tabanan. Dosis obat yang dikasi beda dan lebih rendah. Ternyata kurang cocok juga dan outbreak lagi. Gatal-gatalnya kembali dan bengkak makin parah dengan bintik-bintik air banyak ditelapak kaki. Disini aku merasa lelah tahap pertama, memutuskan untuk nggak ke dokter lagi, di kompres aja dan tahan gatalnya sebisa mungkin.

Awal sampai pertengahan Juni makin parah gatalnya dan bintik air tambah banyak plus bengkak, sempat putus asa untuk ke dokter kulit lagi. Cari-cari info, lalu teman kakak ku ada menyarankan untuk coba ke dokter kulit tempat dia pernah berobat. Dokternya seorang profesor yang mengajar di UNUD dan sudah agak tua.

Sama dokter tersebut aku cerita panjang lebar dari awal luka bakar. Sejauh ini dokternya ngasi penjelasan yang paling masuk akal dan bisa kuterima. Aku lalu memutuskan untuk menjalani pengobatan sama dokter ini. Nggak ada pantangan makanan apapun, kuncinya hanya sabar dan nggak boleh stres kata beliau. Long story short, pengobatannya berlangsung alot, menyita banyak waktu dan menghabiskan hampir semua tabunganku hahaha... T___T

Selama masa pengobatan, keadaan kaki berubah-ubah. Membaik, kemudian memburuk. Membaik lagi, tapi makin buruk setelahnya. Malah jadi parah. Begitu aja terus. Disaranin jangan banyak jalan. Yang kusadari saat itu gatal-gatalnya akan kumat setiap aku pulang kampung dan ketika balik ke Denpasar untuk kerja malah jadi lebih parah.

Juli sampai Agustus adalah masa terparah dimana kaki sampai nggak bisa jalan karena telapak kaki bengkak parah. Mengerikan kalau bisa kubilang. Waktu itu sempat ada jeda berobat ke dokternya karena merasa lelah, tekanan, stres, sedih, putus asa, dan entah apalagi rasanya nano-nano. Pokoknya titik terendah tahun ini sampai aku mempertanyakan sama Tuhan tentang salah perbuatanku di masa lalu atau kehidupan yang sekarang. Jujur aja, saat itu aku merasa agak nggak terima dengan keadaan dan selama semingguan hampir tiap malam nangis. Tapi mikir lagi, disisi lain beruntung banget ada orang-orang terdekat yang peduli terutama orang tuaku dan kakak yang sangat support dan banyak membantu selama proses kesembuhanku.

Setelah masukan dari sana-sini, aku memutuskan menjalani dua macam pengobatan: medis & secara kepercayaan orang Bali - yang berhubungan dengan sekala niskala dimana orang Bali percaya kalau kita sakit dan nggak sembuh-sembuh bisa jadi karena ada gangguan dari luar. Disini aku belajar untuk bersabar dan menerima kenyataan akan kondisi diriku. Masa-masa inilah aku mengalami quote yang sering dibilang orang: uang bisa dicari tapi kesehatan itu mahal harganya, bahkan tak ternilai. Aku mensyukuri semua bentuk kepedulian dan perhatian dari keluarga, teman dan orang-orang terdekat. Benar-benar patuh mengikuti semua saran dokter dan saat akhirnya dokter bilang eksimku ini termasuk penyakit autoimun, aku sudah bisa menerima keadaan.

Belajar untuk menghadapi semuanya dengan ikhlas, berdamai dengan diri sendiri dan penyakitku. 

September, pengobatan intens masih dengan steroid. Pola makan juga teratur. Dengan segala dukungan, akhirnya kulit di telapak kakiku sembuh dengan baik dan berganti dengan kulit baru yang mulus. Jalanpun sudah nggak pincang. Yes!!! 

Lega. Satu kata yang selalu terngiang di benakku. Akhirnya membuahkan hasil. Tapi......

Awal Oktober, balik pulang kampung selama seminggu. Gatal-gatal kembali menyerang, tapi kali ini ditangan. Eh, salah ding. Eksim di tangan muncul sejak pengobatan di dokter sebelumnya dan sudah sembuh pas itu. Karena gatalnya nggak tahan, juga dikampung bingung mau berobat dimana, tiba-tiba ibuku ingat ada mantri yang bisa mengobati eksim. Mantri ini profesi yang mirip-mirip dokter tapi bukan dokter. Aku sendiri bingung menjelaskan. Sempat ragu untuk berobat lagi karena sudah benar-benar lelah - entah untuk kesekian kalinya.

Atas desakan orang tua, akhirnya pergi juga diantar ibu. Penjelasan yang diberikan sama dengan dokter kulitku sebelumnya. Hanya saja, pak mantri ini menambahkan obat untuk jamur/fungi yang nggak aku dapat dari dokter kulitku. Obat ini diberikan karena beliau bilang salah satu dari sekian penyebab eksim itu adalah kontak dengan jamur/fungi. Biasanya rumah yang jarang ditinggali, lingkungan lembab dan lain sebagainya, apalagi di desa. Selain itu, beliau memintaku untuk melakukan diet nggak makan protein busuk (daging) dan segala olahannya. Jadilah aku mencoba vegetarian. Awalnya susah banget mengingat aku meat lover sejati hiiks... Tapi aku lakukan demi kesembuhan. 

Taraaaa! Sejak itu memang gatal-gatalnya hilang sama sekali. Bintik-bintik air pun berkurang. Dua kali berobat kesana, akhirnya dinyatakan sembuh dan nggak perlu berobat lanjut. Tapi tetap disuruh menjalankan pantangan makan. Sayangnya, diet eksimku hanya bertahan sebulan kurang, karena merasa diri sudah sehat. Balik lagi makan daging, beli lalapan, bahkan sering makan diluar.

Awal November, hanya dalam hitungan hari eksim ditanganku kambuh dan bengkak lagi. Memang tidak separah sebelumnya, dan syukurnya tidak gatal. Namun, wajahku mengalami perubahan menjadi lebih bulat. Fenomena ini sering disebut dengan istilah moon face. Setelah bertanya pada temanku yang bekerja di bidang farmasi, efek ini timbul akibat konsumsi steroid yang terus-menerus atau berlebihan. Bayangkan, berbulan-bulan aku mengonsumsi methylprednisolone, jelaslah itu jadi penyebabnya.

7 November 2020

Seharian aku nggak berhenti memikirkan jenis/tipe eksim apa sebenarnya yang ku derita. Nggak pernah nyoba untuk tes darah, jadi aku pun nggak tahu detailnya. Selain karena biaya mahal dan sedang masa pandemi, beberapa pertimbangan lain juga membuatku nggak melakukan tes darah ataupun tes lainnya. Semalaman aku menelusuri Google demi mencari jenis-jenis eksim dan kemungkinan-kemungkinan lain dari penyakit autoimun serta yang sekiranya cocok dengan kondisiku, hingga lelah dan jatuh tertidur.

8 November 2020

Saat bangun pagi, aku lanjut mencari info dan apapun itu tentang eksim. Sepertinya saat itu Tuhan berbaik hati padaku. Tanggal 8 November merupakan titik balik yang membuatku akhirnya menemukan link ke artikel tentang Dyshidrotic Eczema atau yang lebih dikenal dengan istilah Pompolyx diluar negeri. Ciri-cirinya pun sama persis dengan yang kualami, juga foto-foto yang ditampilkan di artikel tersebut. TITIK TERANG.

Mulai lah aku membaca banyak artikel dan menelusuri website tentang DE. Mencari pengobatan yang sekiranya tepat untukku dan bagaimana pencegahannya. DE atau Pompolyx ini ternyata muncul lebih banyak pada wanita umur 20-40 tahun, meskipun ada juga yang muncul saat lebih tua. Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya eksim jenis ini. Kebanyakan tidak bisa sembuh total dengan pengobatan medis, karena salah satu penyebab eksim sendiri adalah faktor genetika. Selain itu juga karena stres (ya ini faktor utama), alergi, kondisi iklim/cuaca, lingkungan, kelembaban, fungi/jamur, bulu hewan dan masih banyak yang lainnya.

Sejak hari itu akhirnya aku memutuskan menjalani diet vegetarian dengan lebih serius. Atau mungkin vegan lebih tepatnya, entahlah. Intinya aku menghindari daging, susu, keju, telur dan segala olahannya, makanan kaleng, kacang-kacangan walaupun susah (karena tempe & tahu pun terbuat dari kacang kedelai). Tentunya dukungan terbesar berasal dari kakak ku, yang notabene selalu memasakkan makanan untukku. Selain mengubah pola makan, aku juga mengubah pola hidup, mengganti sabun mandi, dan beberapa hal lainnya. Tentu aku juga mengurangi konsumsi gula. Perlu dicatat bahwa gula juga sangat berpengaruh memperparah eksim.

Hampir dua bulan berlalu. DE-ku semakin membaik dan jarang muncul. Baru-baru ini kusadari bahwa selain faktor-faktor tersebut diatas, faktor hormonal juga ikut menjadi pemicu meskipun tidak parah-parah amat. Terutama masa pre-menstruasi, dalam kasusku. Syukurnya sekarang-sekarang ini tidak parah dan skalanya kecil. Oh, jangan lupa satu hal penting lainnya. Olahraga! Apapun itu yang bisa menyehatkan badan. Aku sendiri memilih untuk mengikuti kelas hot yoga. Selain menyehatkan, hot yoga merupakan detox alami untuk tubuh mengeluarkan racun dalam bentuk keringat. Pastinya berbeda dengan olahraga biasanya. Karena yoga juga bisa membuat pikiran lebih tenang, tidur pun lelap.

Sejauh perjalananku mengobati, mencari dan menemukan solusi untuk eksimku ini, aku sangat amat bersyukur bisa melewati salah satu cobaan terberat sepanjang hidupku. Mungkin buat orang lain yang nggak mengalaminya akan mengira aku terlalu berlebihan. Tapi seperti yang kalian tahu, cobaan tiap orang itu beda-beda. Buatku ini benar-benar ujian berat dan bersyukur masa terparahnya sudah lewat. Kalau boleh kubilang. Kuncinya, yakinlah Tuhan nggak akan pernah ngasi cobaan yang nggak bisa dilalui umatnya. Seberat apapun itu.

Melalui cobaan ini, rasa sakit dan sedihku yang berkepanjangan berganti menjadi rasa syukur yang tiada taranya. Planning kedepan? Berhubung DE ini masih terus muncul meskipun tidak parah, aku masih akan terus mencoba melakukan diet eksim ini, menjaga emosi dan stres yang muncul, dan tentunya semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik. 

Melalui tulisan ini aku hanya ingin berbagi ceritaku tentang DE/Pompolyx yang kualami sepanjang tahun 2020 bahkan hingga saat ini, meskipun dengan kondisi yang sangat amat jauh lebih baik. Like everyone say, sharing is caring. :")

#TahunBaru2021 #SemangatBaru #ResolusiBaru

Komentar

Postingan Populer