Belated Remorse

Cerpen ini aku buat setelah berhasil menyelesaikan sidang skripsi dengan penuh suka cita haha... Lupa inspirasinya darimana, tapi yang jelas dibuat malam hari ketika jam berdentang dua belas kali dengan suasana yang senyap sunyi...
Cerpen kedua yang aku posting dengan judul dibawah ini.



Cinta…cinta…cinta…
Kata itu begitu melekat dipikiranku ketika rekan kerjaku menanyakan bagaimana status diriku. Ya, dengan umur yang sudah cukup matang untuk menikah tentu sangat aneh jika seorang lelaki masih menyandang status ‘lajang’. Entah mengapa mereka sangat ingin tahu tentang kehidupan percintaanku, mengapa aku tidak memiliki kekasih, mengapa aku memilih sendiri padahal banyak wanita yang mengejarku, dan masih banyak pertanyaan lainnnya muncul yang kutanggapi hanya dengan seutas senyum simpul.
Aku terduduk diam di balkon apartemenku, dengan segelas kopi panas yang beradu dengan dinginnya udara malam perkotaan. Sesungguhnya aku pernah jatuh cinta. Ya, jatuh cinta pada pandangan pertama.
First sight love.
Sesuatu yang sangat indah menurut kebanyakan orang, namun sungguh menyakitkan bagiku. Cinta pertama yang telah membuat kepingan-kepingan hatiku tak bisa direkat lagi. Pikiranku melayang kembali ke tanggal 13 Februari 8 tahun silam. Saat aku sudah menginjak usia akil balig. Saat aku mendapat SIM mengemudi pertamaku. Saat dimana aku bisa pergi ke diskotik/klub malam tanpa ada tenggat waktu ataupun ada yang melarang. Saat aku bisa bersenang-senang dengan bebas, dan saat pertama kali aku jatuh cinta. Dengan seorang wanita yang sosoknya hingga kini masih membayangi malam-malamku. Bahkan saat itu hanya dengan sekali pandang aku bisa merasakan bahwa dia lah takdirku, takdir cinta yang diperuntukkan bagiku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi aku dan teman-temanku tak beranjak dari diskotik tempat kami hang out bareng. Orang tua kami memang tak pernah melarang kami pulang selarut apapun, terlebih saat weekend seperti ini. Mendadak salah satu temanku, Julian, memintaku mengantarkannya ke toilet karena ia merasa mual. Aku lalu menunggunya di luar pintu toilet. Saat itulah aku bertemu dengannya. Beradu pandang dengan sepasang mata coklat yang sangat indah. Parasnya yang cantik sangat mempesona. Penampilannya menebarkan aura keanggunan yang menjalar hingga ke hatiku. Sesaat dadaku merasa sesak, nafasku tertahan, ada sesuatu yang menggelegak di rongga dadaku. Mataku tak mampu berkedip melihatnya. Melihat ke dalam mata coklat yang indah itu, namun kusadari menyiratkan kekosongan, kesedihan yang mendalam.
Selama di diskotik, pandanganku melayang keseluruh ruangan mencari-cari lagi sosoknya. Ketika sudah duduk kembali bersama Julian dan yang lainnya, ada yang menyenggol pundakku. Aku refleks menoleh dan melihat wanita yang kucari-cari itu. Kulitnya yang sehalus sutera bersentuhan dengan bahuku dan jari-jemarinya sangat lentik.  Ia berjalan pergi meninggalkan diskotik dengan menjinjing high heels-nya. Penasaran, aku segera beranjak dari tempat dudukku dan mengikutinya keluar. Ia menyusuri jalan menuju taman kecil di dekat diskotik. Wanita itu kemudian duduk di salah satu bangku taman paling pojok. Aku mengamatinya, kulihat tubuhnya gemetar dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Aku mengumpulkan keberanianku dan duduk disampingnya. Ia menoleh, wajahnya yang cantik basah oleh air mata. Kuamati raut wajahnya, sepertinya usia kami tak terpaut jauh. Kuperhatikan ia bahkan tak berusaha menghapus air matanya ketika melihatku datang.
 “Kau boleh meminjam bahuku.” Aku mulai berkata. Kurebahkan kepalanya dibahuku, dan dia hanya menurut saja. Aku membelai kepalanya, berusaha membuatnya nyaman.
“Maukah kau berbaik hati menemaniku malam ini?” wanita itu tiba-tiba memecah keheningan. Wajahnya penuh harap.
“Tentu saja. Sepanjang malam. Hingga kau tak menangis lagi.” Jawabku tersenyum.
Ia ikut tersenyum. Senyuman yang sanggup melelehkan hatiku, senyuman yang mempesonaku, menarikku tanpa sadar untuk melangkah melewati batasan diantara kami berdua. Ya, malam itu kami berdua melakukannya. Melakukan hal yang dianggap tabu untuk remaja seusiaku. Hal yang tidak seharusnya kulakukan. Aku telah terhanyut dalam pesonanya yang menyeretku melakukan tindakan itu. Aku telah mencemarinya, menodai wanita itu, wanita yang bahkan namanya pun tidak kuketahui.

Aku menghirup kopiku, bergidik saat mengingat kembali rekaman ulang kejadian itu, yang tetap tersimpan di memoriku. Setelah malam itu, ia menghilang. Meninggalkanku dalam kehampaan dan penyesalan. Hingga kini aku selalu memikirkannya. Sosoknya yang menari-nari dalam mimpi terburukku. Satu-satunya wanita yang kucintai. Namun mengapa aku tak pernah mencarinya? Tidak, itu tidak benar. Aku mencarinya. Aku bahkan berusaha semampuku untuk menemukan wanita itu tetapi sia-sia saja. Sangat sulit menemukan orang yang tidak kita ketahui namanya. Tetapi sampai sekarang pun aku tetap percaya bahwa suatu saat aku akan bertemu dengannya lagi. Pada saat itu akan kuutarakan perasaan yang selama ini terpendam rapat dalam hatiku.
Hari libur. Sudah lama aku tak pernah merasakannya. Biasanya aku selalu mengambil waktu akhir pekanku untuk lembur. Tapi hari ini aku ingin bersantai dan menikmati hari liburku. Aku memutuskan untuk pergi ke taman dekat tempat kerjaku. Sejak kejadian terakhir dengan wanita itu, aku jadi membenci taman. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk melangkahkan kaki ke taman. Tapi hari ini entah mengapa aku ingin sekali pergi ke taman. seperti ada sesuatu yang mengharapkanku untuk datang. Aku mencari bangku taman yang kosong, lalu duduk dan mengamati sekelilingku. Meskipun berada di tengah kota dan dekat dengan gedung-gedung tinggi, udara di taman ini sangat sejuk. Beberapa orang terlihat sedang piknik dan anak-anak bermain bola dengan riangnya.
Tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke arahku. Seorang anak laki-laki datang menghampiri untuk mengambil bola itu. Kuserahkan bola padanya.
“Terima kasih, om.” Katanya lirih sembari tersenyum. Aku mengangguk dan balas tersenyum. Senyum anak itu sangat mempesona. ‘Kelak ia akan jadi pemuda yang tampan dan digemari wanita.’ Pikirku seraya mengamati sosok kecilnya yang berlari ke tempat dimana teman-temannya sedang menunggu. Lama aku terdiam di taman itu hingga kumpulan anak-anak yang bermain pun bubar. Aku lalu memutuskan untuk pulang, ketika kulihat anak kecil tadi juga berjalan pulang bersama wanita yang tampaknya adalah ibu sang anak. Anak itu melambaikan tangannya kepadaku sembari berjalan mendekat. Aku sangat terkejut saat menyadari siapa sosok wanita yang berdiri disebelahnya. Ya, wanita itu. Wanita yang telah menorehkan cintanya di setiap sendi dalam tubuhku.
Senyum sang ibu lenyap, tak mampu menutupi rasa terkejutnya saat melihatku. Tampaknya ia masih ingat denganku. Aku menggangguk, tersenyum. Ia kemudian menyuruh anaknya menunggu di depan pintu taman.
“Kau duluan saja ya, sayang. Mama akan menyusul sebentar lagi.” Katanya seraya melambaikan tangan.
“Anakmu?” tanyaku, memperhatikan anaknya yang melangkah menjauh sambil bersenandung ria.
“Ya, aku sudah menikah sejak 7 tahun yang lalu. Aku terkejut kau masih mengingatku.” Ia tersenyum.
“Tentu saja. Aku tak pernah melupakanmu, dan pertemuan kita saat itu.” Aku memandang lekat-lekat wajahnya. Wajah yang amat kurindukan setelah sekian tahun berlalu.
“Ah,” ia mendesah. “Aku benar-benar menyesal soal itu. Kuharap kau bisa memaafkanku.” Katanya sungguh-sungguh.
“Tak perlu meminta maaf. Aku juga salah saat itu. Tapi aku tak menyangka kita bisa bertemu lagi disini.”
“Aku juga. Dan kuharap itu tidak mengganggumu.”
“Sama sekali tidak. Bahkan aku selalu menantikan pertemuan kita setelah kejadian itu. Andai saja aku tahu namamu saat itu, mungkin pertemuan kita tak akan seperti ini. Mungkin aku bisa bertemu denganmu lebih cepat. Dan mungkin aku tak akan terlambat.”
Wanita itu terperanjat. Ia tampak pucat dan hanya terdiam. Aku menghela nafas.
“Sudah sore. Sebaiknya kau tidak membuang waktu membiarkannya menunggu sendiri.” Kataku, mengedikkan bahu ke arah anaknya.
“Kau benar,” ia mengangguk. “Kalau begitu, selamat tinggal.”
“Selamat tinggal. Berbahagialah dengan kehidupanmu.” Aku berkata dengan setulus hati.
Sekejap raut wajahnya menampakkan penyesalan, namun ia lalu tersenyum dan melambai.
Aku membalas lambaiannya dan berbalik, melangkah pulang. Menuju ke sebuah jalan baru yang kubentangkan dihadapanku.


****
Selama perjalanan pulang aku merenung. Terngiang kembali kenangan lama yang kami lakukan saat itu. Dan pertemuan dengannya kali ini sungguh tak kuduga. Ah, sudah sekian lama saat aku bersandar dipundaknya, menangis tersedu. Ini semua memang salahku. Seharusnya aku tidak sepengecut itu meninggalkannya dan mencoba untuk mengenal dirinya. ‘....Mungkin aku bisa bertemu denganmu lebih cepat. Dan mungkin aku tak akan terlambat.’ Kalimat itu terlintas kembali di pikiranku. Dadaku berdegup kencang. Rasanya ada air mata meleleh dipipiku saat ini.
“Mama, kenapa menangis? Apakah yang tadi itu teman mama?” wajah kecil yang tampan itu mendongak menatapku. Ia lalu menggandeng tanganku.
“Iya, mama hanya terharu karena bertemu dengan teman lama mama, nak.” Aku balas meremas tangannya. Kuhapus air mata yang mengalir dan berusaha tersenyum menatapnya.
‘Ah, andai saja saat itu aku tahu bahwa ia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Andai saja saat itu aku tak mengganggapnya sebagai sebuah permainan dan pelampiasan belaka. Andai saja kita bisa bertemu lebih cepat. Penyesalanku tak akan sedalam ini, dan anak ini tentu..........’

Komentar

Postingan Populer