Sound of Hanabi
Sound of Hanabi
oncontextmenu="return false":"

Suara
teriakan dari luar menyadarkan lamunanku. Aku membuka pintu. Ivie, teman
dekatku melambai-lambaikan tangannya menyuruhku untuk bergegas. Aku mengunci
pintu lalu menuju ke arahnya. Bersama-sama, kami berjalan ke mall dekat rumah. Hari itu ada event
Cosplay di area mall tersebut. Ivie yang sangat menyukai jejepangan mengajakku ikut
menemaninya. Karena tak ada rencana lain, aku pun setuju.
Suasananya
ramai sekali. Bahkan karena tak ada tempat duduk, kami terpaksa berdiri.
Karena haus, aku mengajak Ivie membeli ice
bubble yang antreannya seperti bermain ular naga. Setelah mendapatkan
minuman masing-masing, kami mencari pojokan untuk duduk dan beristirahat. Tiba-tiba
ada seseorang menepuk pundakku. Seketika aku berbalik, dan melihat kakak
kelasku waktu SD berdiri di sana dengan serombongan orang yang tampak seperti
anak band. Kami berbincang-bincang
sebentar. Ternyata mereka menjadi salah satu pengisi acara tersebut. Karena
penasaran aku dan Ivie pun menunggu. Berhubung aku menyukai musik jejepangan,
jadi aku ingin tahu lagu seperti apa yang akan mereka bawakan.
Satu
per satu band mulai tampil. Ivie sedang berbicara dengan kenalannya, jadi aku
hanya berdiri sendiri di tengah-tengah pengunjung yang ikut meramaikan acara tersebut. Sedang asyiknya menikmati lagu-lagu
yang dinyanyikan, salah satu personil band kakak kelasku tadi mendekatiku. Ia
berdiri sangat dekat denganku. Sangat dekat. Karena aku tidak mengenalnya jadi
kubiarkan saja. Lagu terakhir dari band di depanku pun selesai. Aku menoleh dan
mendapati bahwa orang tersebut sudah pergi. Fokus kukembalikan ke panggung, ke arah
band kakak kelasku yang akan tampil. Lelaki itu ada di sana. Lelaki yang tadi
berdiri disebelahku. Ternyata ia lah vokalisnya.
Musik
mengalun, dia mulai menyanyi. Tiba-tiba dadaku serasa berdebar. Mataku hanya
tertuju kepada lelaki itu. Suaranya aneh, bagus tetapi sangat aneh. Nyaring tetapi
merdu. Kuperhatikan bahwa ia memiliki lesung pipi setiap kali ia tersenyum. Kemeja
yang dikenakannya biru, senada dengan celana dan sepatunya. Aku benar-benar
terpukau mendengarkan suaranya. Melihatnya menyanyikan lagu - lagu dari band
Jepang yang aku kenal. Tahu-tahu lagu terakhir sudah usai dinyanyikan. Sontak
aku tersadar dan berpaling mencari Ivie. Kulihat dia terakhir berada di
belakang panggung. Aku bergegas mencarinya ke sana. Saat sedang menyusuri
kumpulan kepala pengunjung yang ada di belakang panggung, mataku
beradu pandang dengan mata lelaki itu. ‘Itu dia, sang vokalis,’ pikirku. Ia sedang
menatap balik kepadaku. Aku cepat-cepat memalingkan wajah dan kembali mencari
Ivie.
Sepanjang
perjalanan ke kampus aku tak habis-habisnya mengomeli Ivie yang semalam
meninggalkanku pulang duluan karena ia tiba-tiba sakit perut. Seharusnya ia
mengatakannya agar tak membuatku khawatir. Saat itu aku bahkan berpikir Ivie
mungkin digoda laki-laki pemabuk dan mengajaknya melakukan hal yang tidak - tidak. Ivie
tertawa mendengar kekhawatiranku yang teramat sangat. Ya, aku memang tipe orang
yang mudah khawatir dengan orang lain. Terlebih lagi jika orang tersebut adalah
teman terdekatku. Mungkin itulah sebabnya teman – teman selalu berkata aku
seperti ibu – ibu yang cerewet dan suka ngomel. Hahaha, aku pun terkadang
berpikir seperti itu.
****
Hari
minggu ada event lagi. Kali ini event yang lebih besar dan lokasinya outdoor. Aku sangat menanti-nantikan
event ini setiap tahunnya karena di akhir acara akan ada peluncuran hanabi (kembang api). Ivie selalu berkata bahwa seharusnya aku memiliki pacar dan
mengajak pacarku ke sana alih – alih mengajaknya. Namun aku balas mencemoohnya
karena ia sendiri adalah seorang jomblo. Sore itu kami pergi dengan suka
cita. Aku telah menata rambutku agar terlihat lebih rapi dan indah. Kupakai
gelang merah favoritku untuk melengkapi penampilan ala Tokyo street fashion ini. Malamnya pengunjung kian ramai memadati venue. Tak heran, karena semuanya ingin
ikut melihat hanabi diluncurkan. Di
panggung, panitia sedang sibuk mengecek sound
untuk guest star band yang akan
tampil. Ivie pun sudah siap – siap di depan stage
untuk ikut ber-headbang ria. Satu -
persatu personilnya pun muncul. Mataku langsung menangkap siapa orang terakhir
yang naik ke panggung. Sang vokalis. Lelaki yang kutemui tempo lalu di event Cosplay. Sekali lagi musik mengalun.
Kali ini dengan tempo nge-beat dan
nuansa rock yang kental. Ia mulai
bernyanyi dengan semangat bak penyanyi rock profesional.
Dan sekali lagi aku berada di tengah – tengah. Dibagian belakang orang – orang
yang ikut headbang bareng dengannya. Baru
kulihat ada tattoo di kedua lengannya. Mungkin karena ia mengenakan kaos
doplang tanpa lengan, tattoo itu jadi terlihat. ‘Indah sekali’ pikirku. Bagi sebagian orang, tattoo mungkin terlihat seperti simbol kenakalan, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Namun, aku menyukai tattoo karena menurutku itu merupakan mahakarya seni yang luar
biasa.
Aku kembali fokus mendengar suaranya. Aku menyukai suara itu. Suara yang seolah – olah menyanyi hanya
untukku. Suara yang seolah – olah hanya tertuju padaku. Namun tak sedikitpun ia
menolehkan pandangannya ke arahku. Entah dia menyadari keberadaanku atau tidak.
Aku terbuai dalam alunan suaranya yang menggema, hingga lagu terakhir selesai dinyanyikan. Setelah itu masih ada
pertunjukan tarian jejepangan, baru ditutup dengan hanabi. Semua bersiap – siap dengan kamera dan ponsel-nya masing –
masing. Akupun tak mau kalah dan bertekad untuk merekam momen menakjubkan itu. Bersama – sama, para pengunjung serentak menghitung
mundur peluncuran hanabi.
“Syuuuutttt….duaarrrr…..duaarrr….duaaaaarrr.”
Pengunjung bersorak dan mengabadikan buncahan - buncahan kembang api yang berbentuk bunga - bunga, meluncur dan meledak dengan indahnya di langit. Kedua tanganku menggenggam
ponsel dan tersenyum melihat nyala kembang api yang berkelap – kelip itu. Tiba –
tiba, sebuah tangan memegang tanganku yang sedang menggenggam ponsel. Tangan
satunya menyentuh tanganku yang lain. Aku berdebar, menoleh dengan cepat dan
melihat lelaki itu berdiri disebelahku. ‘Sang vokalis’ sedang tersenyum
menatapku. Tangan kami saling bersentuhan. Aku balas tersenyum dan bersama kami
melihat hanabi dalam diam.
“Syuuuuutttt….DUAAAAARRR….”
hanabi terakhir diluncurkan. Tiba – tiba ia mencium pipiku. Menempelkan dagunya
di pundakku dan memelukku.
“Terima
kasih telah menungguku.”
Itulah
kalimat pertama dan terakhir yang diucapkannya sebelum menghilang dari
pandanganku.

Komentar
Posting Komentar